Korporasi Galang Dana Rp 108 T dari Pasar Modal

Penggalangan dana oleh korporasi yang mendapat izin pra-efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencapai Rp 108,08 triliun selama Januari-27 Juli 2018. Pencapaian tersebut turun 25,25% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebanyak Rp 144,59 triliun. Berdasarkan statistik pasar modal yang dipublikasikan OJK akhir pekan lalu, terlihat bahwa terdapat 50 perusahaan yang sudah mendapat izin praefektif dari regulator terkait penerbitan surat utang (obligasi dan sukuk) dengan total rencana penerbitan Rp 76,25 triliun. Sedangkan selama Januari-28 Juli 2017, terdapat 49 perusahaan yang sudah meraih izin pra-efektif dan menerbitkan surat utang sebesar Rp 87,04 triliun. Penurunan nilai emisi sebesar 12,4% itu menjadi salah satu faktor penggalangan dana di pasar modal oleh korporasi lebih rendah secara year on year (YoY). Kemudian, data OJK juga menunjukkan, selama Januari-27 Juli 2018, nilai rights issue (penawaran umum terbatas/PUT) sebanyak 16 korporasi yang telah mendapat izin pra-efektif OJK mencapai Rp 19,86 triliun. Padahal, pada Januari-28 Juli 2017, nilai rights issue senilai Rp 53,76 triliun.

Aksi korporasi itu dilakukan oleh 17 perusahaan. Meski demikian, selama Januari-27 Juli 2018, terdapat 30 perusahaan dengan perolehan izin pra-efektif untuk penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham senilai Rp 11,97 triliun. S e m e n t a r a i t u , s e l a m a Januari-28 Juli 2017, OJK baru mengeluarkan izin pra-efektif untuk 20 korporasi, dengan rencana IPO saham yang sebesar Rp 3,79 triliun. Adapun terkait IPO saham, PT MD Pictures merupakan satu perusahaan yang telah meraih izin pra efektif, tapi belum mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia. Sebab, berdasarkan rencana MD Pictures baru akan listing di BEI pada 7 Agustus 2018. Kemudian, berdasarkan data pipeline di BEI, sebetulnya terdapat perusahaan lain yang juga berniat melangsungkan IPO saham. Contohnya itu, PT Kagum Jaya Sakti, PT Kota Satu Properti, dan PT Pratama Abadi Nusa Industri, PT Trimitra Propertindo, PT Cottonindo Ariesta, PT Arkadia Digital Media, dan PT Andira Agro. Kemudian, BEI juga mencatat, PT Natura City Development, PT Superkrane Mitra Utama, PT Net Visi Media, PT Madusari Murni Indah, PT Satria Antaran Prima, dan PT Propertindo Mulia Investama, PT Super Energy, dan PT Garudafood Putra Putri Jaya pun berniat melangsungkan IPO saham pada 2018.

Perbaikan Kinerja Dari sejumlah perusahaan yang berniat melakukan IPO saham, terdapat perusahaan dari sektor properti. Terkait hal itu, Kepala Riset PT Koneksi Capital Alfred Nainggolan menyatakan, sejumlah emiten properti berhasil meraih perbaikan kinerja pada semester I-2018. Namun realisasi tersebut belum sejalan dengan pergerakan saham emiten di subsektor properti. “Tingkat kepercayaan investor terhadap saham di subsektor properti belum membaik. Namun jika banyak perusahaan properti yang berniat IPO di tengah kondisi sekarang, saya menilai bahwa hal tersebut merupakan salah satu strategi perusahaan untuk masa mendantang,” ujar dia. Menurut Alfred, perusahaan properti membutuhkan banyak dana untuk menyiapkan proyek, dan mendapat tambahan cadangan lahan (landbank). “Jadi indikasinya, kalau ada perusahaan properti yang mau IPO di saat bursa saham kurang kondusif, itu karena faktor kebutuhan pendanaan. Namun, sebetulnya dengan rencana ekspasinya, tergambar kalau para calon emiten properti itu sedang mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar ke depan,” tegas dia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *