Mengapa Beras Premium Mahal?

Geger kasus beras Maknyuss dan Ayam Jago produksi PT IBU di Bekasi, Jawa Barat, masih terus bergulir sejak penggrebekan di pabriknya 20 Juli lalu. Berbagai tuduhan dialamatkan ke anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. tersebut, mulai dari mengoplos beras, menjual beras subsidi seharga premium, hingga monopoli. Kebenarannya tentu masih menunggu hasil pengadilan kelak.

Tak Bisa Instan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mempersoalkan perbedaan harga (disparitas) yang sangat jauh mencapai sekitar 300% antara harga beras di tingkat petani dengan harga jual beras premium di tingkat konsumen. Menurut dia, hampir seluruh beras medium dan premium berasal dari gabah yang diproduksi dan dijual petani dengan harga Rp3.500 – Rp4.700/kg. Gabah lalu diolah menjadi beras di tingkat petani seharga Rp6.800-Rp7.000/kg. Petani mematok berasnya Rp7.000/kg, sementara penggilingan atau pedagang kecil menjual Rp7.300/kg ke Bulog sesuai harga pembelian pemerintah (HPP).

Sementara perusahaan yang memproduksi beras premium membeli gabah atau beras dari petani, penggilingan, atau pedagang. Mereka lantas mengolahnya untuk mencapai kualitas premium. Beras premium ini lalu dikemas 5 kg atau 10 kg dan dijual ke konsumen dengan kisaran harga Rp23 ribu – Rp26 ribu/kg di pasar swalayan. Jauhnya perbedaan harga dari petani dan konsumen inilah yang dimasalahkan Mentan Amran pada konferensi pers membangun ekonomi pangan berkeadilan di Jakarta (26/7).

Kasus yang hangat tersebut tidak luput dari pengamatan Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Menurutnya, tindakan pemerintah memperkarakan PT IBU itu terlalu jauh. “Untuk mencapai disparitas harga rendah, tidak bisa dilakukan dengan cara yang instan apalagi dengan sistem komando seperti militer,” komentar Enny di kantornya (27/7).

Mekanisme ekonomi berkaitan dengan variabel perekonomian. Seharusnya, lanjut dia, pemerintah menciptakan harmonisasi dalam sistem produksi dan distribusi yang sehat dari hulu ke hilir. Tindakan pemerintah yang tidak hati-hati, dikhawatirkan malah menimbulkan government failure atau lebih parahnya lagi, justru bisa menyebabkan market failure (kegagalan pasar).

Hitungan Ongkos Beras Premium

Menyoal kualitas beras yang ada di pasaran, ada dua, yaitu medium dan premium. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No.6128-2015, beras medium dibagi tiga, yaitu medium 1, 2, dan 3 (lihat tabel). Sementara beras premium hanya satu kelas. Heboh soal harga beras premium, bagaimana sebenarnya proses produksi dan biayanya? Menurut Mohamach Abdoula, Direktur Utama PT Vietindo Jaya, pebisnis mesin-mesin pengolahan beras, di Jakarta, sebenarnya beras premium tidak tergantung varietas. “Semua varietas padi bisa diubah jadi beras premium karena varietas bukan penentu kualitas. Bahkan, raskin pun bisa diproses jadi beras premium,” paparnya membantah pernyataan padi varietas tertentu hanya bisa menjadi beras medium.

Sementara itu Petrus Budiharto, praktisi perberasan di Jakarta, menyoroti harga eceran tertinggi (HET) beras yang dipatok Kemendag sebesar Rp9.000/kg.“Jika bahan beras kualitas premium berasal dari gabah atau beras bahan poles, jual Rp9.000/kg pasti tekor! Kalau beras medium, harga Rp9.000/kg itu mungkin karena masih ada kandungan broken (butir patah) 15% dan derajat sosoh 97%. Masih ada margin profit Rp200-Rp400/kg,”urai Petrus yang berurusan dengan beras sejak 2008 itu.

Lulusan Faperta IPB angkatan 31 yang juga pernah bekerja di industri beras selama lima tahun di Karawang ini memaparkan contoh hitungan beras seperti Maknyuss. Kalau perusahaan membeli gabah kualitas satu dengan harga Rp4.900/kg, maka rendemen berasnya di kisaran 56%. Broken-nya berkisar 15%, dan susut poles menjadi dedak/katul putih sekitar 5%. Hitung punya hitung, untuk memproduksi satu kilogram beras ini butuh gabah 2,2 kg atau Rp10.780.

Namun, kalau perusahaan menyerap gabah pasaran yang harganya Rp3.700/ kg, maka biasanya rendemen hanya 50%, broken 30%, dan susut poles 5%. Walhasil, untuk memperoleh satu kilogram beras harus bermodalkan 3 kg gabah atau Rp11.100. Jadi, modal perusahaan lebih tinggi bila menggunakan bahan gabah pasaran ketimbang gabah kualitas bagus, tetapi masih mendapatkan produk turunan beras broken dan dedak.

Menurut Petrus, bila ingin harga di petani lebih tinggi, pemerintah perlu memberikan subsidi harga gabah tapi di sisi lain konsumen tidak teriak. Thailand dan Vietnam sudah menerapkan subsidi tersebut. Alih-alih diberikan subsidi, malah ada surat edaran dari Mabes Polri yang isinya memberikan patokan kerja Satgas Pangan dengan harga pembelian di tingkat petani, yaitu GKP seharga Rp3.700/kg, GKG Rp4.600/kg, beras Rp7.300/kg. Sedangkan HET di tingkat konsumen Rp9.000/kg.

Dengan adanya surat edaran itu, lanjut Petrus, penggilingan tidak berani beli mahal dan ujungnya petani rugi. “HET konsumen boleh saja, tetapi untuk beras medium. Yang premium nggak usahlah, kan hanya 5%-10%,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *